Buy Domain at RM40 /year . Hosting at RM10/ year.
Beli hosting, bina laman blog & buat duit!
Get Credit Cash Back 10% at AnjungCafe Hosting  

AnjungCafe.com
 
SMS_Chat Make Money On The Net My_AC Email Iklan Kenalan Who's?|chat

baju hadiah Menangi baju AnjungCafe pada setiap minggu dengan menghantar karya-karya anda kepada kami. Lihat syarat-syarat penyertaan.

Sajak
 
Muka Depan Sajak | Hantar idea kreatif anda ke Sajak

beberapa sajakku

by sutan iwan soekri munaf on June 23, 2000 at 07:34:46:



beberapa sajakku


Sutan Iwan Soekri Munaf:
Apa Yang Kau Cari?

Apa yang kau cari?
ke sana ke mari
sementara waktu berjalan dan impian tak pernah sudah. Kita pun
semakin tak berharga di sini, di antara rimba beton

Apa yang kau cari?
waktu semakin dekat juga
sedang kau belum apa-apa. Bagaimana dengan hari
perhitungan itu? Apakah rindu ke sisiNya
tak pernah kembali lagi?

Apa yang kau cari lagi?

Jakarta 22 Januari 2000


Sutan Iwan Soekri Munaf
Kataku

Mayang rambutmu datang mengundang. Bimbang
pun meregang. Waktu
kembali berjalan mengukur diri di antara lambang
dan rindu
Banyak sekali minggu yang lepas dari bulannya
dan bulan ditelan tahun dalam gerai rambutmu
Senyum pun mampir di antara hari, jam, menit dan detikku
Aku ingin menangkap bayang di antara kata-kata
yang meluncur dari lidahmu. Sedang waktu
selalu mencumbu rindu
dan aku datang menyambang gelombang mayang
dari rambutmu. Sedang bimbang kuregang
dari batas rindu yang tak pernah sudah. Barangkali seribu kisah
akan tiba. Kau begitu pasrah
Dalam senyum mampir sebaris mayang rambutmu
yang menyisakan ragu. Padahal aku ingin menjaga tahun
dalam jiwamu dan menikmati minggu-minggu membeku
dari bulan-bulan yang gugur. Dan kata pun
semakin cair pada detik-detikmu
Betul, aku lepaskan dari ranjang sepi ini, kepergianmu…
Mei 2000

Sutan Iwan Soekri Munaf
Di Atas Kereta

Berapa lagi harus kuberi, setelah malam tiba
di luar gelap, dan kau masih menyimpan mimpi?
Malam ini bulan datang dan aku tak pernah bisa mengerti
mengapa waktu berjalan dan kita harus menunggu. Lama
Tak pernah selesai bayangan berlari di luar kaca jendela
dan kita tak pernah mau tahu kapan waktu akan berhenti

Berapa lama lagi aku harus merasakan malam
dan kau masih diam. Kopi sudah dingin dan rokok pun padam
Aku ingin sekali bercerita tentang bintang
tentang kata-kata yang semakin tak bisa kukekang
melaju kencang di atas rel sambil melantunkan irama tualang
di antara waktu yang hilang. Hasrat semakin kuredam

Berapa kali kurasakan malam tanpamu
dan waktu membeku
dalam perjalanan panjang. Terbentang kisah
seribu rindu di setiap kilometer yang terdedah
Barangkali malam akan merekam kalimat demi kalimat
dari hasrat yang melekat.

Januari-Mei 2000

 Sutan Iwan Soekri Munaf
Kekasih

1
Kekasih
Aku kabarkan berita. Kalah
Setelah waktu menjadi candu
dan satu-satu jatuh. Pasrah
Sungguh. Langkah kaki tak pernah letih
sedang detik mendesak menit mendorong jam menyibak hari menembus minggu melewati bulan mencapai tahun menggapai abad. Menggelepar-gelepar ditelan warna yang tak pernah kumengerti. Dalam makna kukejar-kejar rindu yang datang dan senantiasa pergi lagi.
Kekasih
adalah jerat mengikat hasrat
dan aku tak bisa mengejar waktu yang melesat. Mataku menatap kedalam malam pekat: Penuh
sayatan demi sayatan. Semua mendekat. Mendekat. Mendekat.
Ya, aku duduk membaca kata-kata yang berjalan di trotoir lengang. Hanya kata-kata menggaung di antara tembok-tembok resah. Hanya kata-kata yang meramu kalimat, menjebak alinea dan menyodok gagasan ke dalam pusaran-pusaran pikiran – Sungguh, Kekasih!
Aku kalah dalam setiap kisah

2
Kekasih,
rindu itu semakin memburu – tak ada kata-kata yang dapat mengisahkan rasa ini – Pikiran pun tersumbat dalam aliran waktu – Sungguh!
Kalau pun malam kuhabiskan untuk menangkap sisa-sisa kenangan, tak ada lagi suasana ramah itu – Aku ingin lagi, malam ini, menguntai waktu melewati dini hari menuju pagi – duduk bersamamu – melupakan kelam bersemak dalam kamar sempitku!
Kekasih,
rindu itu semakin memburu – Tak ada rasa yang dapat memisahkan kita – dalam waktu, pikiran melangkah entah ke mana. Dalam pikiran engkau melangkah ke jantung hati. Ya, aku semakin mendekat. Entah rinru ini mengikat. Hatiku semakin melangkah kepadamu!
Lupakan bayang-bayang. Lupakan sebarang kisah. Lupakan kegelapan. Aku ingin tetap bersamamu. Sungguh!
Kekasih,
tidak ada lagi kata-kata selain untukmu!

3

Kekasih,
hasrat benar membuka pintu. Ramah
aku selalu melangkah ke rumah. Salah
tidak ada lagi dinding
tidak ada lagi jendela tempat memandang. Semua menjadi waktu dan tonggak merinding. Kaki tak pernah singgah ke suara tembang. Dan berbaris menuju kata-kata. Dan tembok perlahan-lahan terkuak. Duka
mengayuh rindu untuk kembali
mencari. Tidak ada lagi rumah. Sepi

Jakarta, Mei-Juni 2000


Statistik Kandungan
Penulisarchive(klik lihat profail)
Markah Undian-
Populariti95
Tarikh2005-09-20

Sila Undi


Since November 14th, 1996. All right reserved. ©+® 1996 - 2008 by AnjungCafe Sdn Bhd(Company No:632695 W).
No part of this web site and the "Anjung Cafe" name shall be reproduced, stored in a retrieval system, or transmitted by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or otherwise, without written permission from
AnjungCafe Sdn Bhd. (Company No:632695 W).

All Rights Reserved, Unauthorized duplication is a violation of applicable laws.